Karena Kau Milikku dan Milik-Nya
Senin, 14 November 2011 • 04.32 • 0 comments<$2FBlogItemCommentsEnabled>
[Terkadang, sebagai seorang anak kita ingin tahu saja apa yang dilakukan kedua orang tua kita di saat waktu-waktu mereka berdua. Apakah mereka masih merasakan getaran cinta seperti yang kita semua alami? Apakah mereka masih jatuh cinta setiap hari? Apakah masih ada sentuhan-sentuhan fisik dan frasa yang mampu menyetrum setiap persendian mereka?]
Aku hanya seseorang yang berpakaian lusuh dan membawa satu tas tangan untuk merantau ke suatu kota kecil. Dan aku sendiri, dan aku tak memiliki seseorang yang bisa kuajak berbagi hidup. Aku memilih untuk berdoa dahulu, sebelum memulai semuanya. Situasi ini membuatku merasa asing. Setelah beberapa waktu yang lalu masih terlena dengan dunia gemerlap yang ada di luar sana, aku harus memaksa diriku berada dalam ruangan bercat putih dan berbau wangi, dingin, bersama orang-orang yang nampaknya beriman.
Dan hei, siapakah itu? Apakah aku telah masuk dalam hadirat-Nya sehingga aku bisa melihat malaikat di depan sana? Mengenakan gaun panjang bersahaja, dengan senyumnya yang tipis penuh kelembutan. Ia tak cantik, namun...bersinar. Oh, ternyata ia hanyalah seorang organis. Sekali lagi aku terpikat oleh permainannya yang sederhana. Lantunan lagu itu akan menjadi semangatku, setidaknya seminggu ini, hingga aku merasa cukup waktu untuk ditemaninya sembari mencari tahu apa yang dalam dirimu sehingga membuatku merasa begitu berarti.
Akhirnya lewat kebaikan hati beberapa orang aku bisa bertemu denganmu. Yang ku tahu adalah, kau bukan wanita biasa. Kau tak pernah mencintai seorang lelaki, dan sulit bagiku untuk menemukan hatimu. Kurasa, tak mungkinlah kita bisa bersama lebih lanjut lagi. Apalagi, bila kau mengerti masa laluku yang begitu kelam.
“Aku hidup di lingkungan gereja seperti ini. Yah, begitulah. Mungkin beberapa orang menganggapku aneh karena aku tak pernah suka dengan kehidupan duniawi,” tukasmu lalu tertawa.
“Kalau boleh tahu, kenapa kau nampaknya menutup diri dengan dunia luar?”
“Karena menurutku, itu sia-sia,”
Kata-kata terakhirmu diucapkan sedemikian tegasnya hingga aku lupa bahwa saat pertama kali kita bertemu kau begitu santun dan manis. Dengan begitu, pupuslah harapanku. Aku tak akan bisa mengenalmu lebih lanjut. Hidupku terlalu bergantung pada dunia. Aku memutuskan untuk beranjak saat ternyata kau menahanku.
“Untuk apa kau pindah ke kota kecil seperti ini?” tanyamu.
“Aku ingin memiliki kehidupan yang baru. Kau bisa membantuku?”
“Pasti,”
Beberapa saat kemudian kita menjadi teman yang tak terpisahkan. Entah mengapa walaupun kau berasal dari keluarga yang taat beragama, aku tak merasa dihakimi saat berada bersamamu. Kau begitu tahu apa yang kumaksudkan, dan sejak saat itu aku tak pernah merasa kesepian lagi. Hingga waktu itu aku harus mengatakan kepadamu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupku.
“Papaku seorang yang sangat keras dan berasal dari negeri China, meninggal saat aku berusia delapan tahun. Aku anak kesepuluh dari sebelas bersaudara, dan mamaku tak memiliki pendirian yang cukup kuat untuk memutuskan kehidupan kami. Kami hidup dengan susah payah. Mamaku memutuskan untuk berjualan mie goreng, dan kami hanya bisa makan kepala udang setiap hari, karena badannya dimasak. Kau pasti bisa membayangkan bagaimana susahnya kehidupan kami saat itu,”
Aku berhenti sejenak dan menatap matamu. Kau menampakkan perhatian dan kepedulian yang besar akan ceritaku, sehingga membuatku ingin melanjutkannya. Ya, aku merasa hangat dan nyaman berada di sampingmu.
“Hidupku jadi berantakan. Aku tak terima hidup tidak layak seperti itu. Kami harus bisa menemukan suatu cagak sehingga bisa menggantungkan hidup kami, dan aku melakukannya. Aku berhenti sekolah saat tamat SMP. Dan melakukan semua hal yang kupikir itu bisa memperbaiki kondisi kami.”
“Kau melakukan apa?”
Pertanyaanmu begitu menekan ulu hatiku.
“Hmm... Apa kau bisa menerimaku kalau aku menceritakan semuanya?”
“Kita teman, bukan?”
“Hmm... Ya. Kau tahu, apa yang kulakukan benar-benar melanggar nilai-nilai dalam keluarga kami. Aku keluar dari keluargaku, dan membentuk suatu komunitas yang anggotanya semua pemberontak. Kami mulai kebut-kebutan, main perempuan, minum-minuman keras, main judi, dan banyak lagi yang kami lakukan..”
“Sampai sekarang?”
Kulihat matamu. Oh, kau begitu lembut namun skeptis.
“Tidak. Beberapa tahun lalu aku ingin mengadakan lomba balap motor. Aku menjadi ketua panitianya saat itu. Walaupun, itu bukan lomba yang bergengsi. Yah, cuma ajang senang-senang dan mencari uang. Namun, setelah persiapan yang begitu sulit dan biaya yang banyak, kami rugi. Turun hujan, perlombaannya batal. Aku bankrut,”
Suasana menjadi hening.
“Lalu, kau kemari?”
“Belum. Setelah itu, aku memutuskan untuk masuk sekolah Alkitab. Padahal aku tak tahu apa itu Alkitab. Aku tidak pernah membuka Alkitab. Bahkan, baru saja aku lulus dengan cara curang. Menyontek,”
“Apa yang membuatmu memutuskan untuk sekolah Alkitab? Bukankah lebih enak berada di dunia gemerlap sana?”
“Karena senakal-nakalnya aku, aku merasa bahwa ada satu Pribadi di dalam sini yang harus kukenal,”
Dan tak terlihat guratan sedih di wajahmu.
“Aku benar-benar mencintai Pribadi itu. Kembalilah pada-Nya,” ujarmu, memberikan senyuman terhangat yang baru pernah kuterima sepanjang hidupku.
***
Mau tunggu apa lagi? Aku ingin menyatakan cintaku padamu. Karena, hanya kau yang benar-benar membuatku merasa dicintai. Ya, aku pernah mencoba untuk berhubungan serius dengan beberapa orang –yang lain hanya main-main. Namun ini lebih dari sekedar serius. Aku ingin kita selamanya. Kau, yang dampingi hidupku.
“Kamu...mau tidak menjadi pendampingku?” tanyaku ragu.
“Hmm... Kenapa? Kita benar-benar beda, bukan?”
“Karena saat melihatmu, aku bukan hanya melihat dirimu. Ya, aku memang melihatmu, bersama dengan hari-hariku, cita-citaku, masa tuaku, tujuan akhir hidupku. Kau...memiliki semua yang akan kujalani kelak,”
“Aku sudah lama menantikan ini,” ujarmu haru. Aku tak bisa bertanya atau berkata sepatah kata pun, karena sebenarnya aku tak begitu mengerti apa yang kau katakan.
“Saat pertama aku melihatmu di gereja, aku melihatmu dari panggung terus-menerus. Dan selalu berharap dapat mengenalmu lebih jauh lagi. Aku berdoa, bahwa suatu saat aku akan menemukan orang seperti kamu. Hanya seperti, aku tak pernah tahu bahwa ternyata Ia memberikanmu padaku. Sebenarnya tak ada alasan apapun, aku hanya melihat sesuatu yang lain dalam dirimu,”
“Tak ada alasan?”
“Kau hanya terlihat begitu mencintai-Nya, dengan kerinduan yang mendalam akan kasih-Nya,”
Kalimat-kalimatmu terdengar lebih indah, lebih manis, lebih bergelora dibandingkan semua ucapan romantis wanita-wanita yang pernah kukencani. Betapa bodohnya aku memaksa diriku untuk mencintai mereka semua hingga akhirnya sekarang aku tahu bahwa Tuhan sudah menyiapkanmu untukku.
***
Hei, Sayangku. Kau harus ingat masa-masa itu.
Ingatkah kau bahwa setiap hari aku menjemputmu dari kerja? Lalu kita makan dan kau sangat malu karena kau menghabiskan makananmu lebih cepat dari aku. Lucu. Kau selalu berkata bahwa seharusnya lelaki makannya lebih cepat.
Lalu, kita tak pernah pergi berdua, karena kau ingin menjaga kekudusanmu dan kekudusanku. Kita pergi bersama keluargamu, teman-teman gereja, dan menikmati waktu indah bersama-sama.
Kau terlihat malu saat kuperkenalkan dengan keluargaku. Maafkan aku, begitulah mereka. Mereka modis, boros, hidup untuk kesenangan, dan kekanak-kanakan. Mereka mengomentari penampilanmu. Jangan gusar sayang, kau lebih berharga dibandingkan mereka. Aku sangat mencintaimu dan menerimamu apa adanya.
Saat akhirnya aku bisa melamarmu, aku begitu bahagia. Kau terlihat sangat cantik karena itu pertama kali aku melihatmu dengan ulasan make up. Tapi, hari lamaran kita berakhir dengan menegangkan, karena kau menangis. Kau masih ingat kan kenapa kau menangis? Ya, karena aku mencium pipimu. Kau berkata kau belum siap. Oke, maafkan aku yang terlalu cepat. Walaupun...aku pernah lebih dari itu.
Kita melangkah bersama di gereja, diiringi lantunan lagu Kami Memuji Kebesaran-Mu. Aku berhasil menjaga keutuhanmu. Kau tak tergores sedikitpun. Kini, mimpimu menjadi nyata. Kau kudus hingga menikah. Kau tak kehilangan sesuatu yang berharga. Dan semuanya telah menjadi milikku. Tuhan begitu baik. Ia tak hanya memberikan kado kebahagiaan pada kita di hari itu. Ia memberi kita Elisabeth, seorang putri yang tak pernah kita duga.
Akhirnya kita memilikinya. Lalu Stefanus. Dua pribadi yang mencerahkan hari-hari kita. Sebenarnya kita akan memiliki satu lagi, tapi sayangnya itu gagal. Tak apa, sayang. Kau sudah berjuang begitu hebat.
Kau menemaniku saat-saat sukar. Saat-saat aku masih tak memiliki pekerjaan tetap, hingga kini memiliki rumah yang indah karena kita membangunnya bersama. Anak-anak kita, lihatlah. Aku terharu melihat mereka. Kehidupan mereka jauh lebih baik dari yang pernah kualami dan kuharapkan. Ini semua karena anugerah-Nya. Aku tak pernah sia-sia mencintai-Nya. Lalu kita membelikan hadiah pertama untuk Elisabeth, sebuah piano. Itu memang sulit bagiku, namun tak akan menandingi besarnya rasa syukurku akan kehadirannya dalam hidupku.
Tak terasa sudah, 18 tahun kita bersama. Suka dan duka, tawa dan air mata, sakit dan senang, persis seperti apa yang kita janjikan di depan Tuhan, pendeta, dan jemaat. Mimpiku tak meleset sedikitpun. Kau mengerti masa laluku, dan kini berhasil mendandaninya begitu apik. Kau memang anugerah yang tak terbayarkan.
Aku berjanji untuk menjagamu sampai maut memisahkan kita. Untuk selalu disampingmu, agar kau terlepas dari bahaya apapun. Karena kau tahu, bahwa kau adalah milikku, dan milik-Nya. Selamanya...
***
Suatu sore, aku melihat Elisabeth begitu kebingungan dengan tugas-tugasnya. Ya, ia mulai beranjak remaja dan sibuk berbagai macam hal. Tak pernah di rumah, dan jadwalnya selalu padat menanti. Aku begitu rindu padanya dan ingin berbincang.
“Nak, sedang apa kamu?” tanyaku lembut.
“Bentar pa, aku masih sibuk. Jangan ganggu-ganggu,”
Sifatnya memang sama sepertiku, keras dan tak suka diganggu. Beda dengan Stefanus yang lembut.
“Sudah punya pacar?”
Lalu ia tersentak dan berhenti dari semua pekerjaannya. Tak kusangka, ia tersenyum malu.
“Belum, Pa. Tapi, kadang aku kagum sama cowok-cowok yang keren,”
“Keren itu bagaimana?”
“Ya, gimana ya. Kadang ganteng tapi pendek, kadang tinggi tapi jelek, pintar musik, pintar bahasa inggris, tegas, berprinsip, rajin ke gereja, ya banyak lah, Pa...”
“Hati-hati ya, Nak. Kalau kamu menemukan orang yang tepat, ia adalah orang yang selalu menghargaimu, dan nggak macem-macem sama kamu,”
Aku menegaskannya, tak ingin ia terjebak dalam lelaki seperti masa laluku.
“Iya, Pa. Aku mencari orang yang bisa menghargaiku. Karena suatu saat aku akan memiliki seseorang yang mengerti bahwa aku adalah miliknya dan milik Tuhan,”
“Ya, sayang. Dan sekarang aku akan selalu menjagamu. Karena kau tahu, kau adalah milikku dan milik-Nya,”
based on my parents' love story :)
Label: cerita pendek, indonesia, love, true story



